Welcome
image

DR. BAMBANG SUWIGNYO, M.Sc

+62747492595

Kategori
LINK

Detik

Jawa Pos

Kedaulatan Rakyat

Kompas

Kulon Progo

DIY

KLH

AusAID

CIDA

DEC

IFS

JICA

KNIP

ORC Trust Fund

RISTEK

SAREP

SGPPTF

SIDA

TOYOTA

UNDP

Clock

 

Pesan


Dosen UGM Temukan Bio Mulsa Pengganti Mulsa Plastik

image

Dosen UGM Temukan Pengganti Mulsa Plastik

JAKARTA - Mulsa plastik merupakan sarana yang digunakan oleh kebanyakan petani dalam bercocok tanam di lahan berpasir. Ketika hujan, ia menjaga pupuk agar tidak hanyut terbawa air hujan.

Meksi esensial, harga mulsa relatif mahal. Melihat hal ini, dosen Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pun mengembangkan inovasi berupa mulsa ramah lingkungan dari sisa jerami.

Dia adalah Bambang Suwignyo, dosen di bagian Nutrisi dan Makanan Ternak Fapet UGM. Bambang mengatakan, penelitian merupakan salah satu kegiatan dalam payung besar penelitian pengembangan hijauan pastura di lahan pasir. Sejak 2005 lalu, dia telah merintis pemanfaatan lahan pasir untuk pengembangan hijauan dan pastura untuk makanan ternak.

"Petani di lahan berpasir biasanya menggunakan mulsa plastik untuk proses bercocok tanam di lahan pasir yang bersifat kering dengan penguapan tinggi. Namun, harga mulsa plastik dinilai memberatkan petani karena relatif mahal dan kurang ramah lingkungan, maka banyak petani mengeluh," kata Bambang seperti dinukil dari laman UGM, Rabu (25/1/2012).

Keluhan pun semakin terasa ketika petani harus menanggung kenaikan harga pupuk. Ditambah lagi beban pembelian mulsa plastik yang mencapai ratusan ribu rupiah.

"Ini tentu menjadi persoalan penting yang harus dicarikan jalan keluarnya. Jika muncul alternatif pengganti mulsa plastik, petani tentu menyambut dengan baik. Kalau ada alternatif yang lebih murah mereka pasti mau beralih,” ujarnya menjelaskan.

Sebagai alternatif, Bambang dan rekan sesama dosen di Laboratorium Hijauan Makanan Ternak dan Pastura yang dipercaya mengelola mata kuliah Sistem Pertanian Terpadu, pada akhirnya menawarkan jerami sebagai pengganti mulsa plastik. Melalui penelitian yang dilakukan, dia berharap bisa menjadi contoh bagi para mahasiswa sebagai implementasi konsep pertanian terpadu.

Bambang menyebutkan, pemakaian bio mulsa memiliki fungsi ganda. Selama belum terdekomposisi, bio mulsa berfungsi sebagai mulsa dalam arti sesungguhnya dan setelah terdekomposisi ia berfungsi sebagai pupuk bagi tanah. Dengan penelitian yang dilakukan selama 2,5 bulan di lahan berpasir seluas 300 meter per segi dan dibantu dua mahasiswa, bio mulsa mampu menggantikan fungsi mulsa plastik.

"Prediksi minimal tidak ada perbedaan yang nyata. Penggunaan mulsa plastik maupun bio mulsa sama saja meski saat ini penelitian baru mencapai tahap analisis data," katanya menerangkan.

Dia berharap, hasil penelitian ini memberikan catatan ilmiah atas praktik yang telah dilakukan oleh nenek moyang petani. "Penelitian berbasis aplikasi riil bisa bermanfaat tidak hanya menambah ilmu pengetahuaan namun juga bermanfaat bagi petani," tutur Bambang.(mrg) (rhs)

http://kampus.okezone.com/read/2012/01/25/372/563312/redirect

Wed, 4 Sep 2013 @11:16


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Komentar Terbaru
  • ary
    ini Inovasi Teknologi apl...
  • fren ugm
    Buat tambahan nih ada art...
Copyright 2020 YAPERINDO All Rights Reserved