Welcome
image

DR. BAMBANG SUWIGNYO, M.Sc

+62747492595

Kategori
LINK

Detik

Jawa Pos

Kedaulatan Rakyat

Kompas

Kulon Progo

DIY

KLH

AusAID

CIDA

DEC

IFS

JICA

KNIP

ORC Trust Fund

RISTEK

SAREP

SGPPTF

SIDA

TOYOTA

UNDP

Clock

 

Pesan


Banyak Siswa Dis-Orientasi

image

BANYAK SISWA DIS-ORIENTASI

Bambang Suwignyo, S.Pt, MP

Banyak orang bilang bahwa masa depan sangat bergantung pada generasi yang saat ini sedang tumbuh dan berkembang. Pernyataan seperti ini biasa terlontar sebagai sebuah harapan kepada generasi muda. Negeri kita adalah negeri yang kaya raya bak jamrud katulistiwa, pelajaran ini sering disampaikan pada pelajaran SD maupun SMP, bahkan hal itu pulalah yang menarik perhatian para kolonial di masa lalu untuk datang dan ingin menguasai Indonesia. Oleh karena itu memang tidak salah bila Indonesia benar benar memerlukan generasi yang betul betul mencintai negerinya dan siap mengisi serta memajukan negeri ini. Pertanyaannya benarkah generasi kita telah siap dan dipersiapkan untuk menjadi tulang punggung negeri ini? Ironisnya pertanyaan itu masih sulit untuk dijawab karena realitanya banyak sekolah telah digelar dari TK sampai perguruan tinggi. Meskipun masih ada generasi yang tidak mengenyam pendidikan formal akan tetapi masih lebih banyak yang mengenyam pendidikan.
Dengan tidak mengesampingkan dan mengecilkan peran para guru yang telah berusaha sekuat tenaga untuk mendidik generasi negeri ini, namun agaknya masih ada sesuatu yang perlu diperhatikan lebih. Ibarat memasak masih ada bumbu yang tertinggal. Generasi kita seperti telah mengalami disorientasi, tak tahu hendak kemana dan bersikap bagaimana ketika saat ini posisnya adalah sebagai generasi bangsa. Banyak anak usia SMP maupun SLTA bahkan yang duduk di perkuliahan yang tidak tahu harus menjawab apa ketika di tanya mau jadi apa. Ketika generasi kita sudah mengalami disorientasi maka hal ini menunjukan kerapuhan sebuah generasi. Pada saat seperti ini maka motivasi sangat diperlukan, jika tidak maka kita negeri kita akan kehilangan kekayaan yang teramat mahal untuk jangka waktu yang lama. Bagaimana tidak? Kalau mau jujur berapa banyak anak yang datang ke sekolah adalah karena atas dasar motivasi ingin maju dan memajukan bangsa dibanding yang sekedar memenuhi syarat jadi anak sekolah atau memenuhi kehendak orang tua. Tidak sedikit anak sekolah yang datang ke sekolah hanya dengan membawa buku satu satunya, kadang juga tidak sampai ke sekolahan. Lebih parah lagi kalau anak sekolah sekedar untuk mendapatkan status kelulusan (lulus SMP, SMA atau Sarjana), toh kalau dipakai untuk bekerja memang sama. Nilai dalam bentuk angka akhirnya menjadi ukuran satu satunya. Kalau sudah demikian maka perilaku menyontek menjadi budaya untuk meraih prestasi. Prestasi yang seharsunya diupayakan dengan kompetsisi fair dan upaya yang optimal beralih menjadi upaya upaya pintas dan pragmatis. Perilaku ini nampaknya biasa namun sebenarnya berdampak sangat luar biasa. Kalau semenjak usia pendidikan anak tidak lagi memiliki semangat juang, tidak memiliki kemandirian, tidak memiliki rasa percaya diri. Itu adalah bagian dari bukti disorientasi siswa terhadap masa depan diri dan negerinya.
Pertanyaan berikutnya adalah adakah yang salah, jangan jangan antara siswa, guru dan masyarakat sama sama disorientasi. Bagaimana tidak? Pada umumnya orang lebih cepat memberikan apresiasi pada hal hal yang nampak daripada tidak. Akhirnya memunculkan citra fisikisme. Bagus tidaknyta kualitas sekolahan dinilai dari bangunan fisik, bagus tidaknya siswa dinilai dari nilai angka saja, berkulitas tidaknya kelulusan hanya dinilai dari gelar kelulusannya saja. Ini adalah cara memotivasi dan menghargai yang kurang tepat. Bahkan ini melecehkan nilai kemanusiaan. Bukankah manusia juga memiliki nilai yang tidak tampak, nilai budi pekerti, nilai moral, nilai daya juang nilai percaya diri, nilai setia kawan, nilai kepedulian dan banyak lagi. Nilai nilai ini adalah hal yang perlu disentuh, diasah dan dikembangkan, tidak kalah pentingnya dengan nilai fisika matematika biologi teknik dll. Sayangnya hal seperti ini diberikan dalam porsi yang masih sangat kurang. Program program pembangunan fisik dan fasilitas tanpa di barengi dengan pembangunan nilai kemanusiaan tidak ada artinya karena bahkan pendidikan negeri ini hanya akan mencetak para generasi materialistik yang individualistik tak ubahnya seperti mesin mensin manusia, mengerikan!. Sudah selayaknya pemerintah juga memberikan program motivasi, membangun percaya diri, membangun tim building, membangun kepedulian, rasa setia kawan dan semacamnya. Pemberian materi bisa disampaikan melalui pelatihan, outbond, maupun disisipkan pada pelajaran atau aktivitas keseharian. Terlebih saat ini dengan telah diberlakukannya kurikulum berbasis kompetensi (KBK) kiranya saat yang tepat untuk memulainya. Kapan lagi kita akan mendidikan anak kita adik kita untuk memahami negeri ini, mengasah kepedulian mereka kalau tidak sekarang juga. Kalau tidak maka jangan pernah menyesal kalau generasi kita akan menjadi mesin hidup yang dipekerjakan oleh orang asing di negeri sendiri, bahkan akan menjadi miskin di negeri yang kaya raya ini karena tidak berdaya untuk berbuat.

 

Tue, 10 Feb 2015 @18:57


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Komentar Terbaru
  • ary
    ini Inovasi Teknologi apl...
  • fren ugm
    Buat tambahan nih ada art...
Copyright 2019 YAPERINDO All Rights Reserved