Welcome
image

DR. BAMBANG SUWIGNYO, M.Sc

+62747492595

Kategori
LINK

Detik

Jawa Pos

Kedaulatan Rakyat

Kompas

Kulon Progo

DIY

KLH

AusAID

CIDA

DEC

IFS

JICA

KNIP

ORC Trust Fund

RISTEK

SAREP

SGPPTF

SIDA

TOYOTA

UNDP

Clock

 

Pesan


SOSIO KULTURAL BANDARA KULON PROGO

image

SOSIO KULTURAL SELAIN PENDEKATAN EKONOMI
Bambang Suwignyo, Ph.D

CARA BERFIKIR PEMERINTAH MINDED. Semarak HUT Kemerdekaan RI ke 67 di Temon boleh jadi membawa kenangan tersendiri untuk masa yang akan datang. Lagi-lagi soal bandara. Memperhatikan perkembangan isu tentang rencana adanya bandara internasional di wilayah temon. Tampaknya belum ada perkembangan informasi yang signifikan dari pemerintah mengenai hal yang lebih detail dan jelas tentang rencana ini. Beberapa kali kemunculan statemen para pejabat mengenai seputar calon lokasi bandara masih terkesan parsial dan berkutat pada cara pandang yang sangat pemerintah minded. Statemen pejabat sering mempersoalkan tentang kemungkinan harga tanah yang sangat melambung karena ulah spekulan. Sebagaimana dimuat dalam Kedaulatan rakyat hari ini 16 agustus, Tribun Jogja ... ada pesan khusus agar masyarakat jangan melepas tanah kepada para speculan. Bahkan ada berita yang memuat tentang adanya kasus larinya investor di suatu daerah karena tidak mampu membeli tanah yang harganya selangit. Seakan akan tersirat kekawatiran kalau-kalau hal serupa terjadi di Temon. Terkesan cara berfikir yang selain terlalu pemerintah minded juga terlalalu pendekatan ekonomis. Dalam persoalan calon lokasi bandara yang berkaitan tanah sebaiknya juga memperhatikan sspek sosio cultural. Aspek ekonomi penting, aspek sosio cultural juga tidak kalah pentingnya.
SOSIO KULTUTAL TERKAIT TANAH. Pemerintah hendaknya jangan hanya melihat pada kepentingan pemerintah saja. Membuat iklim investasi adalah dengan regulasi itu memang bagian dari pemerintah, akan tetapi membuat masyarakat nyaman aman dan tentran akibat adanya investasi juga kewajiban pemerintah. Jikalau masyarakat berfikiran bahwa dalam investasi tersebut akan mendatangkan manfaat juga bagi mereka, hampir dipastikan tidak ada persoalan antara masyarakat dengan apapun termasuk harga tanah. Akan tetapi jika mereka merasa berat karena sesuatu dan lain hal, sementara mereka berfikir terlalu lemah untuk "melawan" pemerintah, maka cara "melawannya" adalah dengan melempar harga tanah yang tinggi. Sudah bukan hal baru bahwa makna tanah bagi masyarakat jawa tidak sekedar sebidang tanah tempat mereka mendirikan rumah atau bercocok tanam sehingga cukup diukur dengan nilai ekonomi. Sejengkal tanaha bagi masyarakat jawa bisa bermakna historis, prestis dan harga diri sehingga ada istilah "sedumuk bathuk senyari bumi". Sejengkal tanah adalah simbol harga diri kalau perlu di bela mati. Jaman sejarah kita diberi pelajaran bahwa salah satu pemicu perlawanan Pangeran Diponegoro adalah karena Balanda akan membangun rel kereta api yang melewati tanah warisan leluhur beliau. Ini menunjukkan bahwa tanah bagi masyarakat Jawa adalah harga diri. Aspek ini perlu diperhatikan, perlu pendekatan sejak dini secara persuasive, dan solusi secara komprehensif.
PERUMAHAN DAN BASIS PENGHIDUPAN YANG LAYAK. Hal lain adalah ketika terkait dengan persoalan mungkin akan muncul jika memang pembangunan bandara ini akan menyebabkan tergusurnya 419 rumah. Sebagian masyarakat mulai risau karena boleh jadi semula mereka berfikiran kalau "terminal" pesawat itu tidak butuh space yang luas, sehingga cukup hanya menggunakan wialayah tegalan saja tanpa harus menggusur daerah pemukiman. Atau juga boleh jadi ada diantara anggota masyarakat yang berfikir bahwa suara pesawat itu tidak keras sehingga tidak ada masalah tinggal dekat bandara. Oleh karena itu hal ini diantisipasi dnegan tidak hanya dalam pendekatan penyediaan perumahan, tetapi juga mata pencaharian. Mereka tidak hanya perlu rumah tinggal tetapi juga lahan untuk sumber pencaharian. Tranformasi pekerjaan dari petani menjadi pekerja bandara tentunya tetap memperhatikan aspek kompetensi dan skill, sehingga tidak sesederhana memindahkan peserta rapat dari ruang pertemuan ke ruang lainnya. Jika pemerintah belum memberikan penjelasan yang dapat melegakan masyarakat, ini bisa potensi masalah jangka panjang . Padahal statemen pejabat mengatakan bahwa tahun 2016 bandara sudah beroperasi, artinya boleh jadi pembangunan fisik akan segera dimulai. Pertanyaanya bagaimana ini bisa terjadi? Pemerintah mohon jangan hanya terlalu sibuk dengan persoalan investasi, sibuk dengan kekawatiran harga tanah, tetapi juga perlu memperhatikan psikologis dan social masyarakat. Apakah ada kesengajaan bahwa masyarakat dibiarkan terlarut dalam pikiran liarnya dengan menduduga-duga sesuai dengan daya jangkau pikiran masing-masing, imajinasi dan persepsi mereka masing maising. Sehingga mereka menerima dan atau menolak rencana bandara tanpa pengetahuan yang jelas. Masyarakat memiliki hak untuk mendapatkan informasi yang cukup mengani rencana bandara karena sedikit banyak ada hak kepemilikan mereka yang akan terkena.

 

Tue, 10 Feb 2015 @19:09


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Komentar Terbaru
  • ary
    ini Inovasi Teknologi apl...
  • fren ugm
    Buat tambahan nih ada art...
Copyright 2019 YAPERINDO All Rights Reserved