Welcome
image

DR. BAMBANG SUWIGNYO, M.Sc

+62747492595

Kategori
LINK

Detik

Jawa Pos

Kedaulatan Rakyat

Kompas

Kulon Progo

DIY

KLH

AusAID

CIDA

DEC

IFS

JICA

KNIP

ORC Trust Fund

RISTEK

SAREP

SGPPTF

SIDA

TOYOTA

UNDP

Clock

 

Pesan


Epilog Pendawa Main Dadu (Bandara Kulon Progo)

image

EPILOG PANDAWA MAIN DADU
(Bandara Kulon Progo)

Bambang Suwignyo, Ph.D

Berbicara mengenai rencana bandara internasional yang akan dibangun (salah satu lokasi kuat) di Kulon Progo seperti mengikuti dinamika cerita sinetron bersambung. Penonton disuguhi oleh cerita sosok tokoh yang kadang naik, kadang landai kadang menanjak menegangkan, kadang hilang dari cerita, kadang muncul begitu tiba tiba memenuhi lembaran cerita. Namun demikian apapun dimanika tetap saja bersambung dan tidak tahu kapan endingnya. Ibarat cerita bersambung, selalu ada babak baru dalam setiap kemunculan cerita tentang badara.
Setelah sekian bulan tidak muncul cerita tentang bandara, sejak awal Maret muncul kembali cerita dengan diawali oleh kabar belum jelasnya investor sampai kabar terbaru soal bahwa konon tinggal menunggu ijin penentuan lokasi. Baik diakui atau tidak, terkait dengan rencana pembangunan bandara di Kulon Progo masih ada pro kontra. Jikalau memang pembangunan bandara ini menjadi suatu keniscayaan, sebagai warga negara penulis berharap agar proses yang dijalani jangan sampai ada pihak yang merasa ditinggalkan.
Penentuan IPL bukanlan sesuatu yang menjadi monopoli penuh pemerintah. Dalam undang undang No 2 Tahun 2012 tentang pengadaan tanah bagi kepentingan umum jelas di sebutkan bahwa IPL masuk dalam bagian perencanaan. Banyak hal yang masih belum dapat dipenuhi oleh pemerintah untuk sampai tahap penentuan lokasi, tidak hanya dalam hal proses teknisnya (pemberitahuan, konsultasi publik dll) namun juga dalam hal perangkat teknis dan regulasi pendukungnya (RT RW, renstra, pemrakarsa dll). Lahan yang direncanakan akan menjadi lokasi pembangunan bandara sebagian adalah lahan masyarakat. Oleh karena itu sebelum adanya IPL mestinya ada proses dimana masyarakat dilibatkan sebagaimana dalam UU No 2 tahun 2012.

EPILOG PANDAWA MAIN DADU. Ibarat Pandawa yang sedang main dadu. Pada cerita "Pandawa Main Dadu" diawali dari keinginan yang begitu besar dari para Kurawa untuk menyingkirkan Pandawa karena dipandang sebagai penghalang untuk menguasai Kerajaan Hastina Pura. Patih Sangkuni yang memiliki watak licik member ide kepada Kurawa untuk menyingkirkan Pandawa melalui permainan dadu (judi). Tentu saja permainan dadu yang telah di persiapkan sedemikian rupa sehingga dapat dipastikan bahwa pemenangnga pasti Kurawa. Akhirnya Pandawa (yang dalam permainnya diwakili oleh Puntadewa) kalah bermain dadu. Kekalahan Pandawa dalam permainan dadu ini harus dibayar mahal dengan menyerahkan seluruh harta kekayaannya, masih ditambah mereka harus menjalani hukuman dibuang dihutan. Pandawa harus meninggalkan Hastina sebagai tanah kelahirannya selama 12 tahun dan ditambah dengan melakukan penyamaran selama 1 tahun. Masih ditambah lagi persyaratan bahwa selama penyamaran tidak boleh ketahuan karena kalau ketahuan, maka Pandawa harus mengulang proses hukuman itu.
Persoalan rencana bandara internasional di Kulon Progo memang tidak sama seperti Pandawa bermain dadu, dan penulis berharap ini bukan permainan dadu. Penulis tidak ingin mengatakan bahwa pemerintah adalah Kurawa yang sedang menawarkan permainan dadu dan petani Kulon Progo adalah Pandawa yang sedang dijebak pada permainan yang tidak akan dimenangkannya. Penulis juga tidak sedang mengatakan bahwa jika pemerintah "menang" berarti petani akan "terusir" dari tanah kelahirannya seperti Pandawa yang terlunta lunta. Penulis juga tidak sedang mengatakan bahwa bandara yang akan dibangun adalah dadu. Dadu yang sudah dipersiapkan dengan skenario sedemikian rupa sehingga sudah jelas siapa pemenang dan siapa yang akan menjadi pecundang. Penulis khawatir kalau seperti itu kita akan terjebak pada pemikiran dan aksi kontraproduktif kemudian mencari-cari siapa saat ini patih Sangkuninya. Namun demikian penulis dan banyak orang semoga sepakat bahwa masyarakat Kulon Progo terutama yang berasal dari area calon lokasi bandara tidak seharusnya akan mengalami nasib seperti Pandawa yang kalah main dadu. Oleh karena itu penulis lebih suka berfikir secara positif bahwa pemerintah telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan sangat baik mulai dari soal harga tanah, pergantian pemukinan (andai ada yang tergusur) sampai pada penanganan pengangguran bagi mereka yang semula menjadikan lahan pertanian di pesisir sebagai mata pencahariannya jika bandara jadi dibangun.

PURBO WASESO.
Terhadap sikap pemerintah yang masih belum gumathok, banyak orang menduga-duga bahwa mungkin bandara tidak jadi dibangun di Kulon Progo. Ada juga yang menduga-duga bahwa bandara pasti dibangun, ini hanya soal waktu, dan masyarakat Kulon Progo tidak akan diberikan kesempatan untuk menentukan pilihan. Undang-Undang No. 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum memang memungkinkan warga negara untuk menentukan pilihan, namun demikian pilihan macam apa yang akan disodorkan oleh pemerintah? Apakah pemerintah yang belum siap untuk melakukan purbo atau warga Kulon Progo yang belum siap menentukan waseso. Masyarakat kulon Progo yang belum siap menentukan pilihan atau pemerintah yang belum siap memberikan pilihan? Apapun jawabannya, konon spekulan tanah terlanjur bermain. Harapannya jangan sampai ada sangkuni-sangkuni modern menjadikan tanah calon lokasi bandara sebagai permainan dadu. Banyak orang menunggu kelanjutan cerita soal bandara. Harapannya jangan sampai terjadi peristiwa "Pandawa Main Dadu" pada masyarakat Kulon Progo.


Bambang Suwignyo, Ph.D
Doktor Community Development dan Environmental Sciences.

 

Tue, 10 Feb 2015 @19:21


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Komentar Terbaru
  • ary
    ini Inovasi Teknologi apl...
  • fren ugm
    Buat tambahan nih ada art...
Copyright 2019 YAPERINDO All Rights Reserved