Welcome
image

DR. BAMBANG SUWIGNYO, M.Sc

+62747492595

Kategori
LINK

Detik

Jawa Pos

Kedaulatan Rakyat

Kompas

Kulon Progo

DIY

KLH

AusAID

CIDA

DEC

IFS

JICA

KNIP

ORC Trust Fund

RISTEK

SAREP

SGPPTF

SIDA

TOYOTA

UNDP

Clock

 

Pesan


Tiga Langkah Menuju Swasembada Daging Sapi

image

MENAKAR SWASEMBADA DAGING SAPI

Bambang Suwignyo, Ph.D

Swasembada daging sapi pernah ditargetkan pada tahun 2010 dan kemudian di revisi menjadi 2014. Kebutuhan daging sapi dapat diprediksi dari angka konsumsi daging sapi nasional yaitu sebesar 2,38 kg/kap/th (BPS, 2013), dimana angka tersebut merupakan 21,27% dari total konsumsi daging nasional. Jika penduduk diasumsikan sejumlah 240 juta jiwa, maka diperlukan daging yang berasal dari sapi sejumlah 571,2 ribu ton/th (angka MBR 4:1 dan karkas 50%). Jika dalam bentuk ternak hidup maka setara dengan ternak sapi 4,76 juta ekor/ th (asumsi berat hidup 300 kg).
Definisi swasembada ketika dapat memenuhi 90% kebutuhan. Oleh karena itu Indonesia mestinya menyediakan sapi-kerbau untuk dipotong sejumlah 4,28 juta ekor. Jika dibandingkan dengan jumlah sapi-kerbau Indonesia saat ini (angka pembulatan 14 juta ekor), maka 4,28 juta adalah 31% dari total populasi yang ada. Jika dipaksakan dipenuhi 90% kebutuhan daging sapi-kerbau dari dalam negeri (jika trend pertumbuhan ternak tidak berubah) maka sapi-kerbau Indonesia akan habis dalam waktu 5 tahun (data Dirjen PKH 2013, pertumbuhan sapi potong 7,24 %/th dan kerbau 9,26%/th). Sebenarnya penurunan populasi sudah terjadi sejak pemerintah menurunkan jumlah impor dari 102,4 ribu ton (2011) menjadi 80 ribu ton (2013). Populasi sapi-kerbau nasional turun 19,5% yaitu tinggal 13,7 juta (2013) dari semula 16,49 juta (2011). Penurunan ini merata di seluruh Indonesia termasuk daerah gudang sapi. Jawa Timur turun 26,16%, Jawa Tengah 24,87%, Nusa Tenggara 15% (Kontan 27 juni 2013); Bali turun 28,29%, NTB 14,73%, NTT 14,82%, Sulawesi Selatan 4,71% (Investor 27 juni 2013); Kulon Progo turun 36% (Antara, 3 juni 2013). Ada beberapa pemikiran langkah strategis yang dapat ditempuh menuju swasembada.
Langkah pertama memberikan kepastian regulasi dan kebijakan untuk mendukung dan melindungi cita-cita berswasembada. Oleh karena itu pogram ini tidak berlebihan jika langsung dibawah kendali presiden atau minimal dibawah menteri koordinator perekonomian. Cita-cita ini memerlukan konsistensi, kejelasan tahapan dan pasti multisektor-multiyears. Satu-satunya jalan untuk berswasembada secara berdaulat adalah melalui PENINGKATKAN POPULASI SAPI-KERBAU. Jika mempertimbangkan kebutuhan dan pertumbuhan populasi saat ini, maka jumlah ideal sapi-kerbau Indonesia mestinya diatas 61 juta ekor. Oleh karena itu jika memang swasembada daging sapi adalah cita-cita maka perlu dilakukan langkah-langkah secara jelas, tegas, dan bersungguh-sungguh.
Langkah kedua adalah mendatangkan (impor) bibit indukan dan pengamanan sapi betina produktif. Pengamanan sapi betina produktif bermakna bahwa setiap ada sapi betina produktif yang akan dipotong maka dibeli oleh pemerintah. Pemotongan betina produktif nasional antara 150 - 200 ribu ekor/ th (Puslitbangnak, 2011). Sapi betina yang telah dibeli oleh pemerintah dapat dikelola sendiri oleh pemerintah, dapat djuga diserahkan kepada petani. Fakta menunjukkan bahwa stok sapi terbesar berada di petani (98%) bukan di perusahaan peternakan. Jumlah petani Indonesia adalah 28 juta rumah tangga pertani (RTP), dimana 11,1 juta RTP tidak memiliki lahan (Harian Analisa, 2012). Sapi-kerbau sejumlah 62 juta ekor dapat dipercayakan kepada 16,9 juta RTP berlahan, atau kepada 6,5 juta RTP eksisting. Skenario kedua adalah dengan memanfaatkan lahan negara. Perlu didorong pola integrasi sapi dengan sektor yang memungkinkan memiliki potensi untuk ditempatkan sapi. Alternatifnya adalah BUMN atau lahan dibawah tegakan hutan, pemeliharaan ternak dengan integrasi (sapi-sawit, sapi-tebu, sapi kakao, sapi-hutan dll). Lahan sawit Indonesia hampir 10 juta ha, jika ada 1 ekor sapi setiap hektarnya maka lahan sawit dapat menampung 10 juta ekor sapi. Hutan Indonesia +140 juta ha, tinggal goodwill saja.
Langkah ketiga adalah penguatan petani. Mekanisme insentif dan kebijakan khusus untuk akses modal kepada peternak. Visibilitas usaha baik berdasarkan skill, skala usaha maupun potensi lain melalui optimalisasi peran penyuluh. Ada 47.955 penyuluh pertanian (27.476 penyuluh PNS dan 20.479 Tenaga Harian Lepas/Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian) (Antara, 27 Agustus 2014). Untuk mendapatkan komposisi ideal satu desa satu penyuluh maka perlu peningkatan jumlah penyuluh untuk ditempatkan di 75.224 desa/kelurahan agar sejalan dengan Undang-undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan Pemberdayaan Petani. Semua tahapan diatas perlu regulasi dan kebijakan yang pasti agar semangat "resonansi swasembada" di semua sektor terdengar sama.

 

Tue, 10 Feb 2015 @19:28


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Komentar Terbaru
  • ary
    ini Inovasi Teknologi apl...
  • fren ugm
    Buat tambahan nih ada art...
Copyright 2019 YAPERINDO All Rights Reserved