Welcome
image

DR. BAMBANG SUWIGNYO, M.Sc

+62747492595

Kategori
LINK

Detik

Jawa Pos

Kedaulatan Rakyat

Kompas

Kulon Progo

DIY

KLH

AusAID

CIDA

DEC

IFS

JICA

KNIP

ORC Trust Fund

RISTEK

SAREP

SGPPTF

SIDA

TOYOTA

UNDP

Clock

 

Pesan


Bambang Suwignyo UGM, Menakar Sapi Indonesia

image

MENAKAR SAPI INDONESIA

 

Bambang Suwignyo, Ph.D

 

Hiruk pikuk persapian kembali muncul dalam pekan ini. Kampus, instansi, petani sampai menteri, media cetak, media elektronik media di dunia maya membicarakan tentang sapi bahkan menjadikan sebagai headline. Sementara itu harga daging sapi terus merangkak naik hingga diatas Rp 100 ribu. Pemerintah berencana mengimpor daging sapi tidak hanya dari Australia bahkan dari India, padahal dari negara tersebut dikenal belum bersih dari adanya penyakit mulut dan kuku yang dikawatirkan dalam berdampak pada ternak sapi Indonesia. Pada awal suksesi, Presiden Jokowi mentargetkan untuk dapat tercapainya swasembada daging sapi pada tahun 2017. Seberapa besar sebenarnya potensi sapi Indonesia untuk dapat memenuhi target tersebut? Mari kita takar kapasitasnya.

Jika kita runut kebutuhan daging saat ini dapat diprediksi dari angka konsumsi daging sapi nasional yaitu sebesar 2,38 kg/kap/th (BPS, 2013), dimana angka tersebut merupakan 21,27% dari konsumsi total daging nasional (unggas mencapai 58,02%). Jika jumlah penduduk diasumsikan sejumlah 240 juta jiwa, maka diperlukan daging yang berasal dari sapi sejumlah 571,2 juta kg/ th. Jika dalam bentuk ternak hidup maka setara dengan ternak sapi/ kerbau 4,76 juta ekor/ th (asumsi berat badan hidup 300 kg). Definisi swasembada ketika dapat memenuhi 90% kebutuhan. Oleh karena itu Indonesia mestinya menyediakan sapi-kerbau untuk dipotong sejumlah 4,28 juta ekor. Jika dibandingkan dengan jumlah sapi-kerbau Indonesia saat ini (angka pembulatan 14 juta ekor), maka 4,28 juta adalah 31% dari total populasi yang ada. Jika dipaksakan dipenuhi 90% kebutuhan daging sapi-kerbau dari dalam negeri (jika trend pertumbuhan ternak tidak berubah) maka sapi-kerbau Indonesia akan habis dalam waktu 5 tahun (pertumbuhan sapi potong 7,24 %/th dan kerbau 9,26%/th). Sebenarnya penurunan populasi sudah terjadi sejak diturunkannya jumlah impor dari 102,4 ribu ton (2011) menjadi 80 ribu ton (2013). Populasi sapi-kerbau nasional turun 19,5% yaitu tinggal 13,7 juta (2013) dari semula 16,49 juta (2011). Penurunan merata di seluruh Indonesia termasuk daerah gudang sapi. Jawa Timur turun 26,16%, Jawa Tengah 24,87%, Nusa Tenggara 15%, Bali 28,29%, NTB 14,73%, NTT 14,82%, dan Sulawesi Selatan 4,71%.

Jika melihat konstruksi sapi saat ini, nampaknya masih berat untuk berwasembada sapi meski dalam lima tahun kedepan. Setidaknya ada tiga alasan. Pertama, distribusi sapi antar pulau masih belum merata. Jika dilihat dari kewilayahan maka Jawa Timur menjadi gudang sapi tertinggi nasional dengan 4,9 juta ekor dikuti Jawa Tengah 2,2 juta ekor dan Sulawesi Selatan dengan 1,1 juta ekor. Jika dilihat dari penyebaran antar pulau maka Pulau Jawa masih menempati populasi tertinggi mencapai 50%, hampir equal dengan jumlah penduduknya yaitu 57%. Hal menarik adalah, pada pulau lain juga terjadi pola yang serupa dimana proporsi jumlah ternak sapi hampir equal dengan jumlah penduduknya: Sumatera jumlah sapi 18% ~ 21% penduduk, Bali 4%~2%, Maluku-Papua 2%~3%, Kalimantan 3%~1% Nusa Tenggara 10%~4% dan Sulawesi 12%~7%. Kedua, sapi Indonesia masih lebih dekat sebagai materi kultural daripada komoditas bisnis, makin diperkuat dengan stok sapi terbesar bukanlah di pengusaha melainkan berada di petani (98%). Selain data diatas yang menunjukan bahwa equalnya jumlah sapi dan jumlah penduduk juga diperkuat dengan pernyataan dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Muladno yang menyatakan bahwa hanya 20% sapi yang siap untuk trading dan 80% berstatus kelangenan. Logisnya daerah luar Jawa yang masih luas adalah daerah lumbung sapi, bukan Jawa yang sudah penuh sesak manusia. Ternak sapi ada tetapi tidak tersedia (tidak untuk dijual). Ketiga, populasi sapi Indonesia belum ideal, sementara pemotongan betina produktif belum terkendalikan secara terstruktur. Dengan kebutuhan 571,2 ribu kg/th, pemortongan betina produktif yang mencapai 200 ribu ekor/th (mungkin lebih) dan pertumbuhan populasi sapi 7,24 %/th dan kerbau 9,26%/th, maka jumlah ideal sapi yang minimal kita miliki 61 juta. Saatnya jujur pada keadaan dan tidak malu memulai program jangka panjang demi masa depan anak cucu bangsa.

PENULIS

Bambang Suwignyo, Ph.D

1. Dosen Fakultas Peternakan UGM

2. Wk. MPM PP Muhammadiyah Bidang Pertanian Terpadu

3. Ketua Dewan Riset Daerah Kabupaten Kulon Progo

 

Sat, 17 Jun 2017 @13:13


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Komentar Terbaru
  • ary
    ini Inovasi Teknologi apl...
  • fren ugm
    Buat tambahan nih ada art...
Copyright 2019 YAPERINDO All Rights Reserved