Welcome
image

DR. BAMBANG SUWIGNYO, M.Sc

+62747492595

Kategori
LINK

Detik

Jawa Pos

Kedaulatan Rakyat

Kompas

Kulon Progo

DIY

KLH

AusAID

CIDA

DEC

IFS

JICA

KNIP

ORC Trust Fund

RISTEK

SAREP

SGPPTF

SIDA

TOYOTA

UNDP

Clock

 

Pesan


Bambang Suwignyo UGM, Mitos Harga Sapi

image

MITOS HARGA SAPI (Kedaulatan Rakyat 2 Juni 2016)

 

Bambang Suwignyo, PhD

 

Isyu tentang sapi pada lima tahun terkahir ini dapat dikatakan naik pangkat karena hampir setara dengan isyu politik strategis ataupun bahan pokok penting seperti beras dan bahan bakar minyak (BBM). Munculnya isyu sapi hampir selalu menjadi trending topik pada media masya maupun media sosial. Beberapa waktu yang lalu dalam suatu rapat terbatas, Presiden Joko Widodo memberikan arahan agar harga sapi dapat diturunkan sehingga pada Idul Fitri nanti ditargetkan akan menjadi Rp 80.000/ kg. Berbagai spekulasi pertanyaan muncul, apakah dapat terelisasi atau tidak, dan sekiranya apa persyaratannya.

Akhir tahun 2015 sampai awal tahun 2016 lalu fenomena kenaikan harga beras juga sempat mewarnai isyu nasional. Fenomena ini dengan cepat dapat diredam, dengan salah satunya adalah operasi pasar yang dilakukan baik oleh Bulog maupun oleh pemerintah. Harga sapi tidak hanya saat ini saja berada diatas Rp 100.000, dengan kata lain ini telah berlangsung lama. Namun demikian nampaknya konstruksi persoalan beras dan sapi berbeda sehingga kecil sekali peluang untuk dapat diselesaikan dengan operasi pasar. Daging sapi selain karena nilai ekonomi yang tinggi (membutuhkan biaya yang besar), juga karena jumlah stok sapi berbeda dengan stok beras. Produksi beras nasional dapat di katakan pada level swasembada, kalaupun kurang ada pada posisi jumlah cadangan bukan pada kebutuhan. Posisi stok sapi Indonesia belum sampai pada level swasembada, sehingga kalaupun memiliki dana untuk membeli daging sapi dalam rangka operasi pasar, namun akan tetap terkendala pada ketersedian barang. Jumlah populasi sapi potong Indonesia 15,5 juta (Kementan RI, 2015) masih jauh dari ideal. Jumlah kebutuhan daging sapi nasional mencapai 571,2 juta kg/ th (data konsumsi BPS 2013 sebesar 2,38 kg/kap/th) dari asumsi penduduk Indonesia sejumlah 240 juta. Jumlah 571,2 juta kg/th setara dengan penyediaan 4,76 juta ekor/th sapi hidup untuk dipotong (asumsi berat badan hidup sapi 300 kg). Jika angka kebutuhan daging 571,2 ribu kg/th, pemotongan betina produktif menurut Sinartani (2011) berkisar 200 ribu ekor/th (mungkin bisa lebih) dan pertumbuhan populasi sapi 7,24 %/th dan kerbau 9,26%/th, maka jumlah ideal sapi potong yang seharusnya dimiliki Indonesia untuk sampai pada level swasembada adalah 61 juta ekor.

Jumlah sapi Indonesia 98% berada di peternak rakyat dimana hanya 20% saja yang siap untuk dipotong (Muladno, 2015), sedangkan Rahardi (2016) berpendapat bahwa jumlah yang di peternakan rakyat adalah 70,6%. Pada kondisi demikian, posisi harga dan jumlah sapi impor menjadi sangat menentukan terhadap harga daging sapi Indonesia. Harga per kg berat hidup sapi impor dari Australia pada caturwulan pertama berada pada kisaran USD 3,15 – 3,25 (Rp 45.675 – 47.125) pada saat itu kurs dolar US berada pada Rp 14.500, sedangkan pada caturwulan kedua pada kisaran antara USD 2,75 - 2,95 (Rp 37.675 – 40.415) dolar pada kurs Rp 13.700. Jika diasumsikan bahwa harga hari ini adalah USD 2,75 dengan kurs Rp 13.600, dengan produksi karkas 50% dan persentase daging 70% dari karkas, maka harga BEP per kg daging sapi seorang pedagang daging adalah Rp 106,900 (belum termasuk transport, bea karantina, pakan dll). Harga Rp 80.000/kg daging sapi dapat dicapai jika harga beli (impor) dari Australia turun menjadi USD 2,1/kg bobot hidup atau jika kurs dolar turun menjadi Rp 10.500 dan kecuali materi yang diimport adalah daging sapi.

Persoalan sapi memang tidak sesederhana menghitung harganya. Presiden perlu mendapatkan input yang jujur dan jelas, tidak sekedar asal bapak senang (ABS), agar presiden dapat memutuskan dengan cepat, cermat, dan tepat. Kebijakan tentang persapian boleh jadi lebih diprioritaskan pada visi jangka panjang, bukan hanya jangka pendek, apalagi kebijakan reaktif. Lebih baik mundur selangkah untuk bersiap lari cepat daripada jalan ditempat

 

Bambang Suwignyo, Ph.D

1. Dosen Fakultas Peternakan UGM

2. Pengurus Besar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (PB ISPI)

3. Pengurus MPM PP Muhammadiyah Bidang Pertanian Terpadu

4. Ketua Dewan Riset Daerah Kabupaten Kulon Progo

Sat, 17 Jun 2017 @13:50


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Komentar Terbaru
  • ary
    ini Inovasi Teknologi apl...
  • fren ugm
    Buat tambahan nih ada art...
Copyright 2019 YAPERINDO All Rights Reserved