Welcome
image

DR. BAMBANG SUWIGNYO, M.Sc

+62747492595

Kategori
LINK

Detik

Jawa Pos

Kedaulatan Rakyat

Kompas

Kulon Progo

DIY

KLH

AusAID

CIDA

DEC

IFS

JICA

KNIP

ORC Trust Fund

RISTEK

SAREP

SGPPTF

SIDA

TOYOTA

UNDP

Clock

 

Pesan


Kartel Pangan, Bambang Suwignyo UGM

image

Bambang Suwignyo, PhD

http://www.krjogja.com/web/news/read/34974/Kartel_Pangan

EMPAT bulan terakhir ini terjadi kenaikan dua komoditas pertanian yang harganya dianggap melewati batas kewajaran. Pertama harga cabai yang melejit hingga di atas Rp 100 ribu/kg dan kemudian disusul bawang putih dengan harga berkisar Rp 38 ribu - Rp 70 ribu/kg. Setahun yang lalu, menjelang bulan Ramadan kita juga masih belum lupa dengan isu harga daging sapi yang mencapai sekitar Rp 130 ribu, sehingga Presiden Joko Widodo memerintahkan kepada kementerian terkait agar daging sapi berada pada kisaran harga Rp 80 ribu.

Saat harga bawang putih terus merangkat naik, bahkan di Sanggau Kalbar mencapai Rp 120 ribu, pekan lalu kita dipertontonkan adanya penimbun bawang putih yang berhasil dibongkar satgas pangan, di Marunda Jakarta, Medan dan Cilacap. Puluhan hingga ratusan ton bawang putih ditimbun dalam gudang yang (anehnya) ada pengusaha tersebut tidak memiliki surat izin usaha perdagangan (SIUP) dan surat izin gudang. Praktik penimbunan ini disinyalir dapat mempengaruhi harga di pasar.

Siapapun yang masih hidup akan membutuhkan pangan. Indonesia dengan jumlah penduduk 250 juta jiwa, merupakan pasar pangan yang sangat strategis. Siapapun negeri di belahan dunia ini pasti menginginkan kecukupan pangan, papan dan sandang. Lain di keinginan, lain di kenyataan. Saat suatu negara belum dapat memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, maka ketergantungan pangan berarti keuntungan ekonomi, bahkan juga keuntungan politik. Sangat mungkin ada banyak pihak yang berkepentingan untuk turut berselancar di atas ketergantungan pangan Indonesia ini. Sangat masuk akal bahwa pihak-pihak tersebut akan mengontrol harga pangan.

Bagaimana tidak? Anthuriun jenmanii yang saat ini diiklankan dengan harga ratusan ribu, sebelum tahun 2010 pernah menghebohkan Indonesia karena diperdagangkan dengan harga hingga ratusan juga rupiah. Anthurium jenmanii yang bukan produk herbal maupun pangan, saat itu menjadi primadona baik dari kalangan bawah, menengah maupun atas. Boleh jadi ini adalah ‘laboratorium’ pihak tertentu (baca kartel) yang mencoba untuk mengontrol harga dengan suatu sistem yang telah mereka seting dan sepakati. Ketika barang tidak jelas saja bisa dimainkan, tentu bukan hal yang sulit untuk memainkan barang yang penting seperti pangan.

Momen di mana saat demand pangan naik seperti Ramadan dan Idul Fitri menjadi momen yang biasa digunakan untuk memulai permainan ini. Cabai telah warming up sebelum Ramadan dengan harga spektakuler, demikian pula bawang putih. Jika Indonesia tidak mengambil langkah ketat, cermat dan tegas terhadap para kartel pangan, maka 250 juta penduduk ini berpotensi menjadi bulanbulanan para kartel pangan dengan permainan harga yang dipergilirkan dari satu komoditas ke komoditas yang lain. Silih berganti komoditas pangan seperti kedelai, jagung, beras, daging sapi, cabai, bawang putih, dan gula dengan harga fluktuatif tidak wajar.

Cara paling ampuh untuk menyempitkan ruang gerak kartel adalah dengan berswasembada pangan. Jika melihat potensi Indonesia, maka yakin Indonesia mampu swasembada pangan baik dari unsur tanaman maupun hewan. Indonesia adalah negara dengan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia. Indonesia memiliki lebih dari 70 jenis tanaman penghasil karbohidrat, bahkan 7 dari 9 jenis lebah penghasil madu dunia ada di Indonesia. Namun ini perlu waktu panjang karena tidak hanya soal keterlibatan para pelaku produksi pangan (petani, penyuluh, ilmuan). Namun juga kebutuhan infrastruktur baik pokok (lahan) maupun penunjangnya (teknologi, mesin, pupuk).

Upaya jangka pendek yang dapat dilakukan untuk melindungi warga adalah dengan penindakan tegas dan efek jera kepada para kartel pangan. Jika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dapat bertindak tegas terhadap para koruptor, Densus 88 mampu tindak tegas para teroris, Saberpungli tegas kepada pelaku pungli, maka kita dukung Satgas Pangan untuk tegas berantas kartel pangan, setidaknya kawal implementasi Undang-undang Nomor 18 tahun 2012 tentang Pangan dari kemungkinan masuknya kartel pada penyediaan, perdagangan, cadangan, distribusi, dan keamanan pangan.

(Bambang Suwignyo PhD. Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat & Kerjasama Fakultas Peternakan UGM, Ketua Dewan Riset Daerah dan Tenaga Ahli Dewan Ketahanan Pangan Kabupaten Kulonprogo. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Kamis 8 Juni 2017)

Sat, 17 Jun 2017 @14:09


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Komentar Terbaru
  • ary
    ini Inovasi Teknologi apl...
  • fren ugm
    Buat tambahan nih ada art...
Copyright 2019 YAPERINDO All Rights Reserved