Welcome
image

DR. BAMBANG SUWIGNYO, M.Sc

+62747492595

Kategori
LINK

Detik

Jawa Pos

Kedaulatan Rakyat

Kompas

Kulon Progo

DIY

KLH

AusAID

CIDA

DEC

IFS

JICA

KNIP

ORC Trust Fund

RISTEK

SAREP

SGPPTF

SIDA

TOYOTA

UNDP

Clock

 

Pesan


Artikel (1)

Keywords: forages farming sistem

Bambang Suwignyo UGM, Legume Sebagai Leaf Protein

image

LEGUME SEBAGAI LEAF PROTEIN


Bambang Suwignyo, Ph.D


Kadar protein pada pakan ternak menjadi salah satu faktor penting untuk dipertimbangkan dalam usaha peternakan. Hal ini tidak hanya terkait dengan kepentingan dalam kaitan dengan produktivitas ternak, akan tetapi juga terkait dengan biaya produksi. Pada pakan per kg konsentrat ruminansia seperti sapi, kerbau, kambing dan domba biasanya lebih rendah dibanding harga konsentrat pada unggas. Salah satu faktornya dikarenakan kadar protein pakan ruminansia biasanya lebih rendah dibanding dengan pakan untuk unggas. Untuk pakan ruminansia sebenarnya ada sumber protein yang tergolong murah dan sangat terjangkau yaitu pakan yang berasal dari hijauan atau dapat juga disebut leaf protein. Bagi ternak ruminansia, hijauan yang secara bahan materi berupa sumber serat/ karbohidrat struktural (selulosa, hemiselulosa) dapat diproses menjadi bahan yang berfungsi dalam tubuh sebagai sumber energi seperti halnya karbohidrat (glukosa) pada non ruminasia. Kemampuan memanfaatkan selulosa karena adanya mikrobia pemecah selulosa (cellulolytic bacteria) di dalam saluran pencernaan ruminansia yaang disebut rumen (drodot/ waduk/ babat dalam bahasa lokal). Jenis hijauan yang dikenal oleh publik setidaknya ada dua golongan yaitu rumput dan leguminosa. Rumput pada umumnya memiliki kadar protein yang lebih rendah dibanding leguminosa. Leguminosa memiliki kadar protein kasar rata-rata antara 15% sampai dengan 25%.Sedangkan rumput rata-rata memiliki kadar protein dibawah 12%. Leguminosa ini yang kemudian dapat dijadikan sebagai sumber leaf protein. Leguminosa dapat berupa pohon (glirisidia, lamtoro, kaliandra, tayuman, turi, kelor, desmodium, munggur) maupun berupa semak (putri malu, kalopo, sentro, stilo).


Pakan di cerna di dalam rumen bisa mencapai 80%, sedangkan sisanya melalui bagian saluran pencernaan setelahnya. Proses di dalam rumen dilakukan oleh mikrobia rumen. Hasil utama fermentasi di dalam rumen yang dilakukan oleh cellulolytic bacteria yang kemudian di serap melalui dinding rumen adalah vollatil fatty acid (VFA) yang terdiri atas asam asetat, asam propionat dan asam butirat. Tiga cellulolytic bacteria yang dominan karena mencapai 70% dari total populasi di dalam rumen adalah Ruminococcus albus, Ruminococcus flavefaciens dan Fibrobacter succinogenes. Jika ternak diberi pakan leguminosa (protein tinggi) maka akan mimicu berkembangnya F. Succinogenes lebih banyak dibanding lainnya. Bakteri F. Succinogenes ini akan menghasilkan succinate yang kemudian akan menghasilkan VFA asam propionat. Dalam mekanisme metabolisme tubuh, propionate sangat penting keberadaannya untuk suplai energi tubuh. Asam propionat ini yang akan mempengaruhi kuantitas produksi susu (pada ternak perah) dan daging (ternak potong).


Leaf protein akan mensuplai kebutuhan protein bagi ruminansia dengan fungsi yang sama dengan dengan pakan dalam bentuk konsentrat dengan kadar protein tinggi. Harga pakan kosentrat dengan kadar protein kasar diatas 17% hampir dipastikan diatas Rp 3000/ kg, sedangkan harga leaf protein sama hanya sekitar Rp 1000/ kg. Sapi perah memerlukan pakan dengan kadar protein lebih tinggi dibanding sapi potong, hal ini karena sapi perah memerlukan support nutrisi tidak hanya untuk hidup pokok dan pertumbuhan, namun juga untuk produksi susu. Jika peternak mampu membudidayakan sumber sumber leaf protein untuk menjadi pakan tentu saja akan sangat membantu dalam menurunkan biaya produksi.


 


dimuat dalam SINDO CORNER 13 Juni 2016

Sat, 17 Jun 2017 @12:52

Komentar Terbaru
  • ary
    ini Inovasi Teknologi apl...
  • fren ugm
    Buat tambahan nih ada art...
Copyright 2019 YAPERINDO All Rights Reserved