Kegiatan ini akan menjadi salah satu dokumen rujukan dalam pelaksanaan kegiatan DAK tahun berikutnya. Bahwasannya untuk mendapatkan strategi terbaik bagi pelaksanaan kegiatan DAK di masa yang akan datang maka di perlukan potret kegiatan yang sudah berjalan dimasa lalu.
Untuk pengembangan pengembangan jangka panjang (misal road map kegiatan selama lima tahun) kiranya perlu di dukung oleh evaluasi yang terstruktur mengenai pelaksanaan kegiatan yang sudah selesai dilaksanakan. Harapannya semoga evaluasi ini benar-benar bermanfaat terutama bagi pembangunan pertanian di masa yang akan datang.

Rekomendasi
Untuk pengembangan bawang merah unggul berkonsep modern perlu ada tahapan-tahapan yang di tempuh, terstruktur, dan sistematis. Kulon Progo yang memiliki akses internasional dapat di pilih sebagai tempat implementasinya dan untuk dilakukan evaluasi pada pelaksanaannya.
Membuat perencanaan sampai evaluasi pengembangan bawang merah berbasis smart farming dapat di rencanakan dalam multi years, misal lima tahun 2021-2025. Dari aspek teknis budidaya sampai supporting teknologinya dengan urutan aktivvitas sbb:

  1. Tahun ke-1. Penerapan dari rencana smart farming bawang merah yang diawali dari smart irigation, Tahun 2021.
  2. Tahun ke-2: Evaluasi model dan kapasitas pasar bawang merah, tahun 2022. Termasuk road map kegiatan 2021-2025.
  3. Tahun ke-3: on site planing pelaksanaan menuju smart farming dari panen sampai pasca panen. Evaluasi kualits produksi, dapat dimulai sistem gradding.
  4. Tahun ke-4: kelembagaan smart farming bawang merah, rantai dingin komoditas bawang merah, dari biji sampai pasar. Evaluasi peran kelembagaan petani.
  5. Tahun ke-5 pemantapan peran masing-masing komponan rantai dingin dan evaluasi penerapan digital mappping dan digital marketing.

Kesimpulan
a. Dana DAK di Provinsi DI Yogyakarta tahun 2018 pembiayaan mayoritas pada ketiga kabupaten adalah seputar air. Kabupaten Bantul mengalokasikan untuk dam parit dan irigasi sebanyak 62%, Kabupaten Gunung Kidul untuk dam parit dan irigasi sebanyak 62%, dan Kabupaten Sleman untuk embung dan irigasi air dangkal sebanyak 73%. Pembiayaan DAK tahun 2019 di ketiga Kabupaten yaitu 51,3% adalah terkait sumber-sumber air. Kabupaten Bantul mengalokasikan untuk irigasi air dangkal sebanyak 64%, Kabupaten Gunung Kidul untuk dam parit dan irigasi (dangkal, sedang, dalam) sebanyak 55%, dan Kabupaten Kulon Progo untuk embung dan irigasi air dangkal sebanyak 43%.
b. Dana DAK yang di pergunakan untuk pembangunan sistem irigasi air dangkal sangat manfaat bagi petani. Kemanfaatannya tidak secara teknis, namun juga secara ekonomis yaitu mendukung efisiensi produksi. Konsep irigasi air dangkal dengan sistem distribusi dengan menggunakan selang lebih baik jika dibanding dengan sistem manual. Inovasi ini mampu menekan biaya produksi atau meningkatkan efisiensi 16,7% (Sri Kayangan) dan 7,8% (Bugel). Inovasi tahun 2019 yaitu distribusi dengan sprinkler mampu mewujudkan efisiensi sekitar 41%, ini lebih baik dibanding sistem distribusi dengan selang apalagi secara manual.
c. Pengembangan irigasi pintar dengan memanfaatkan tenaga dari sinar matahari (solar cell) diperkirakan akan mampu meningkatkan efisiensi usaha dari pengeluaran untuk penyiraman tanaman. Sistem ini juga dapat dikembangkan untuk mendukung pertanian yang ramah lingkungan, misal penggunaan light trap bertenaga solar cell sebagai pengendalian hama penyakit tanaman daripada menggunakan pestisida.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *